My Love G : Buku Satu – Chapter 3

My Love G – Chapter Map

3

Question?

Adakah ku singgah di hatimu?
Mungkinkah kau rindukan adaku?
(Untitled – Maliq and D’essentials)

Tawa Mita pecah setelah mendengar cerita Yindi tentang ‘pertunjukan’ yang dilihatnya tadi malam. Awalnya, Yindi hanya bermaksud untuk memberi update soal Galih dan tentang Julien Kim yang tidak berhasil ditemukan, tapi dia tak kuasa menahan diri untuk berbagi fakta pada Mita bahwa tetangganya melakukan perbuatan tak senonoh.

“Salah lo sendiri pake ngintipin orang cipokan!” Lagi-lagi Mita mengumbar aib Yindi dengan suara semi speaker-nya, menyebabkan sebagian besar pengunjung melirik ke arah mereka dengan ekspresi ingin tahu.

Kedai chinese food di tengah hiruk-pikuk Pasar Mayestik ini adalah lokasi makan siang favorit Yindi dan Mita. Seperti biasa, mereka duduk di dekat pintu masuk, guna mendapatkan sedikit akses udara segar di restoran yang pengap karena asap masakan. Aroma kecap ikan yang tajam tercium dari dapur di ujung ruangan, dilatari suara spatula yang beradu dengan kuali. Tidak ada meja yang kosong, beberapa pengunjung bahkan rela mengantre demi mengisi perut di siang yang terik ini.

“Bagus ya, Dedemit! Permalukan aja, gue. Besok-besok gak akan gue traktir lagi.” Yindi mengacungkan garpunya ke arah Mita, memberikan tatapan mengancam.

Mita menyeruput es jeruk, tak peduli dengan ultimatum Yindi. Gadis berambut ikal itu kembali menekuni piring berisi kwetiauw siram ayam miliknya, menikmati setiap suap makanan gratis dengan wajah penuh kemenangan. Sungguh Yindi menyesal karena telah menyia-nyiakan sebagian gajinya demi Mita, apalagi kemarin si cewek pelupa itu salah mengingat tanggal ulang tahunnya.

“Jadi acara kemaren batal dan jadinya pergi malam ini sama Galih?” tanya Mita lagi.

Yindi hanya mengangguk, mulutnya sibuk mengunyah nasi ayam lada hitam pesanannya.

“Terus nanti malem bakal makan shabu-shabu lagi?” Mita memberikan ekspresi iba.

Yindi memberi sahabatnya tatapan penuh arti. Gadis itu sengaja memberi cukup waktu untuk menelan makanan yang baru saja dikunyahnya. “Galih bilang dia mau bawa gue ke Resoluté.”

Kedua ujung bibir Mita tertarik ke atas. Yindi baru saja menyebut nama sebuah kafe hits di jantung Senayan. Mita segera menepuk-nepuk pundak Yindi dengan penuh semangat. “Selamat ya…!” reaksinya berlebihan.

“Selamat karena gak usah bersaing sama udang rebus?”

“Karena akhirnya Galih pilih tempat yang romantis! Outdoor! Lilin! Bunga! Air mancur!” Dengan berapi-api, Mita menggambarkan keindahan Resoluté Café dalam ingatannya.

Yindi menempelkan jari telunjuk pada bibir, mengisyaratkan Mita untuk menurunkan volume suara karena beberapa pengunjung mulai terlihat kurang nyaman.

Setelah berhasil menenangkan diri, Mita melanjutkan kata-katanya, Bisa aja malem ini lo ditembak.”

Yindi mencibir, “Apa sih, Mit…, makan malem doang, kok. Lagian, ini bukan pertama kalinya gue dan Galih makan disana kali… lebay lo, ah!”

Mita menggeleng kuat-kuat. “Ndi, lo boleh nunggu Galih nembak lo sampe rambut lo beruban…,” gadis bermata tajam itu memberikan jeda pada kalimatnya, “…atau lo bisa minta kepastian dari dia, malam ini juga.”

***

Seorang pelayan berseragam hitam dengan dasi kupu-kupu hijau mengantarkan dua porsi dessert. Sorbet mangga-persik untuk Yindi dan sepotong cake coklat karamel untuk Galih. Sampai detik ini, tidak ada pembicaraan soal kejelasan hubungan di antara mereka.

Sedari tadi, Yindi tidak bisa berkonsentrasi. Mulut dan pikirannya bertindak sendiri-sendiri. Gadis itu berusaha mencari momen yang tepat, tapi sepertinya dia lupa membawa keberanian—elemen paling penting pada acaranya dengan Galih malam ini.

Gemercik air terdengar tidak jauh dari tempat mereka duduk. Pohon beringin besar menaungi air mancur khas Brooklyn Musem of Art yang terletak lebih rendah di sebuah ceruk berbentuk kawah persegi. Kursi dan meja ditempatkan secara acak, di bawah pendar lentera-lentera mini yang digantungkan pada dahan. Angin berembus dari celah bangunan-bangunan tinggi yang mengapit tempat tersebut—menjadikannya oase di tengah Jakarta yang semakin memanas. Di sisi kanan, alunan musik swing jazz dan hiruk-pikuk pengunjung menyeruak dari jendela-jendela yang terbuka lebar, memperlihatkan sisi Resoluté yang lebih modern—lengkap dengan bar dan kursi-kursi berbusa yang merapat ke dinding.

Jujur, Yindi lebih suka duduk dalam ruangan. Suasana di sekelilingnya memang indah, tapi area ini seperti dunia lain, dimana setiap malam adalah malam minggu. Tangan yang saling menggenggam, mata yang memandang mesra, pancaran sinar temaram kekuningan yang memantul pada wajah-wajah yang merona. Meja-meja di sekeliling Yindi dipenuhi oleh pasangan yang terbakar api asmara. Semua orang seakan ingin membuktikan cinta mereka di bawah pohon paling romantis di Jakarta.

Tapi tidak dengan Yindi. Menunya malam ini adalah ragu, dibungkus penasaran, dilengkapi saus bernama takut kehilangan. Lidahnya terasa kelu. Jangankan sorbet, saat ini otaknya hanya bisa memproses satu hal—statusnya dengan Galih.

Gadis bermata sayu itu meneliti pria di hadapannya. Seperti biasa, Galih terlihat segar. Wajahnya licin mulus tanpa bulu-bulu halus di dagu maupun pipi, rambutnya dipangkas rapi dengan sentuhan spike yang terlihat alami. Kemeja hijau muda dengan motif garis vertikal yang dia kenakan sangat pantas untuknya. Lengan bajunya dibiarkan terlipat sampai siku, memperlihatkan kontur otot yang kokoh hasil berlatih rutin di gym. Galih masih sama seperti waktu SMA dulu, mempesona dengan tampilan maskulin sekaligus lembut yang dimilikinya.

“Ndi? Yindi?”

Yindi tersadarkan oleh tangan Galih yang melambai tepat di depan hidungnya. Rupanya gadis itu terlalu lama asyik dengan dunianya sendiri.

“Kok bengong? Sakit ya?” tanya Galih dengan suara beratnya yang khas. Mendadak perut Yindi terasa seperti digelitiki dari dalam.

“Eh, eng-enggak kok,” jawab Yindi terbata.

“Bener?”

“Gak apa-apa, Lih. I’m fine.” Gadis itu meraih gelas mocktail miliknya, menenangkan diri dengan cairan manis beraroma buah-buahan tropis.

Galih memberikan ekspresi sangsi, kedua matanya memperhatikan Yindi dengan pandangan penuh selidik. Yindi mengutuk dalam hati, gara-gara Galih, sekarang bukan hanya pipinya yang memanas, jantungnya pun ikut bergejolak.

Jangan kampungan, Yindi! Kayak masih remaja aja! batinnya putus asa.

“Eh, terus gimana pasien kamu yang kelas 3 SD itu? Jadinya berani dicabut apa enggak?” Yindi menyendokkan sorbet yang mulai mencair ke dalam mulutnya, berusaha mengalihkan Galih pada topik lain.

“Dia meninggal soalnya aku salah cabut.” Raut wajah Galih berubah sendu.

“Hah?!”

“Iya, instead of nyabut gigi, aku malah cabut nyawanya.”

Yindi terdiam selama beberapa detik, lalu tawanya pecah. Dia rindu dengan candaan khas pria pujaannya tersebut. Tipe lelucon yang mengutip kata Mita, “Kalau gak diketawain kasian,” tapi anehnya tetap bisa mengocok perut Yindi. Galih ikut tergelak, memamerkan deretan gigi tanpa cela.

By the way, aku udah selesai cerita itu dari tadi. Terbukti kan kamu lagi suka bengong.” Galih memicingkan mata, memberi kesan sinis yang dibuat-buat.

Yindi hanya diam, tertangkap basah tanpa bisa membela diri.

Untuk beberapa saat, Yindi hanya bisa mencuri lirik kemudian mengalihkan pandangannya dari pria itu, sebelum Galih memecah hening di antara mereka. “Cerita, dong…,” bujuknya lembut, meruntuhkan pertahanan setiap wanita yang mendengarnya.

Yindi menghela napas. Mungkin inilah saatnya bagi dia untuk membawa pembicaraan mereka ke arah yang lebih serius.

“Galih!”

Belum sempat Yindi mengutarakan maksudnya, sebuah suara membuyarkan konsentrasi mereka berdua. Seorang wanita dengan terusan putih menyapa Galih, menepuk ringan pundak pria pujaan Yindi. Galih membalas keakraban wanita itu dengan tidak kalah hangat. Pria itu segera berdiri dan memeluk wanita tersebut. Rasa cemburu seketika membakar setiap saraf otak Yindi.

“Ya ampun, lama banget gak ketemu. Sama siapa?” tanya Galih dengan satu tangan yang masih menggenggam siku wanita itu.

Wanita itu menunjuk ke arah kumpulan pengunjung yang berdiri di samping pintu masuk Resoluté. “Sama temen-temen pilates gue.”

“Oh, paguyuban jomblo, ya?”

“Rese, lo!” Wanita berbaju putih itu memukul pelan sisi tubuh Galih dengan clutch berwarna senada. Galih hanya tertawa, membuat Yindi merasa tak nyaman.

Wanita itu melirik ke arah Yindi, lalu kembali melihat ke arah Galih dengan pandangan menggoda. “Tahu deh gue…, mentang-mentang udah jadian jadi songong, lo. Kok punya pacar manis gak pernah dibawa pas reuni kampus, sih?”

Kata ‘pacar’ membuat Yindi merapatkan kedua kakinya. Tulang punggungnya serasa disuntik dengan air sedingin es. Hatinya berdebar cemas menunggu respons dari Galih. Otaknya berputar cepat memikirkan reaksi apa yang harus dia berikan dalam situasi seperti ini.

Tanpa disangka, Galih hanya tersenyum simpul. Dia meraih tangan Yindi, menggenggamnya erat sebelum menjawab dengan mantap, “Ini sahabat gue.”

***

Ada dua hal yang wajib ada di dalam mobil Galih : wewangian beraroma cemara dan koleksi CD Maliq and D’Essentials. Gubahan dari band asli Indonesia tersebut hampir selalu mengiringi Galih dalam mengarungi lalu lintas Jakarta. Yindi pun terpengaruh, perlahan dia menyukai satu-dua lagu. Gadis itu menikmati momen dimana dia bisa mendengarkan Galih bernyanyi mengikuti irama dari grup musik beraliran jazz tersebut.

Tapi tidak malam ini.

Gadis itu setengah mati menahan tangis. Yindi berkonsentrasi pada pemandangan di luar jendela mobil, sementara Galih menyetir dalam diam. Maliq and D’Essentials kembali menemani perjalanan mereka, tapi merdunya musik tak bisa mengobati sakitnya hati Yindi. Charm bracelet-nya masih melingkar di pergelangan, bergemerencing pelan sesekali, namun semua perasaan bahagia yang biasa menyertainya tiba-tiba lenyap entah kemana.

Setelah pertemuan Galih dengan teman lamanya si wanita berbaju putih, suasana makan malam mereka menjadi canggung. Galih memutuskan untuk mengantar Yindi pulang, dan sejak itu pula mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Pria itu seakan mengerti bahwa Yindi butuh space, dibiarkannya gadis itu menata hati dalam bisu.

CRV abu-abu metalik yang dikendarai Galih memutar di bundaran Semanggi, kemudian bergerak ke arah tenggara, lurus menyusuri jalur M.T. Haryono. Sepanjang perjalanan kedua tangan Yindi mengepal erat karena resah.

“Nanti aku diturunin di perempatan Kuningan aja, ya.” Yindi yang pertama kali memecah hening.

Galih melirik Yindi. “Kenapa gak sampai rumah?”

“Ada urusan.”

“Aku anterin aja dulu. Mau kemana?”

“Gak usah. Aku gak mau ngerepotin.” Yindi menjawab semua pertanyaan Galih tanpa menatap pria itu. Jangankan memandang, menolehkan wajahnya sejenak saja dia tak sudi.

Sejenak, suasana di antara mereka kembali sunyi, hanya alunan nada mendayu-dayu yang mengisi jarak, memperdengarkan perpaduan gitar dan piano yang apik. Galih sama sekali tidak melambankan laju kendaraan. Tepat sebelum lampu lalu lintas berubah merah, CRV abu-abu metalik tersebut berbelok tajam ke Jalan Rasuna Said.

“Lho? Galih!” Yindi bersiap protes karena Galih tidak menghiraukan permintaannya.

“Ndi, aku gak tahu kamu kesel karena apa. Kalau kamu gak mau cerita sekarang, aku gak akan maksa. Tapi aku harus anter kamu sampai rumah. Ini udah malem.” Galih menekan tombol off pada dasbor untuk menghentikan alunan musik, lalu kembali memperhatikan jalan. Ekspresinya tetap tenang seperti biasanya.

Bibir Yindi bergetar, emosi yang sedari tadi dipendamnya mulai mendesak keluar. “Kamu gak tahu aku kenapa?”

Galih menengok ke arah Yindi, raut wajahnya menunjukkan kalau dia terkejut melihat respons gadis itu. Kali ini Yindi menatap pria itu lekat-lekat, menilai gerak-gerik Galih sampai elemen terkecil.

“Kamu sebenernya tahu. Kamu cuma pura-pura gak ngerti.”

Pria itu tertegun. “Maksud kamu?” tanya Galih hati-hati.

“Kamu gak peduli perasaan orang lain. Selama kamu belum siap, berarti orang lain harus sabar. Kamu egois.” Yindi menggigit bibir, dia sadar betapa kalimatnya barusan terdengar sangat kekanakan, tapi saat ini emosi telah mengambil alih setiap sel dalam tubuhnya.

“Ndi…,”

“Aku gak mau ngomong lagi.” Yindi memalingkan muka, tidak ingin Galih melihat genangan air mata di wajahnya. Hatinya terasa perih, lelah dengan kegelisahan yang menyelimuti.

***

Galih menghentikan kendaraan di depan pagar rumah Yindi. Gadis itu bermaksud untuk keluar dari mobil, tetapi Galih mencegahnya.

“Tunggu,” pinta Galih.

“Aku capek, Lih.”

“Bentar, Ndi. Aku mau ngomong,” bujuk Galih lagi dengan nada memelas.

“Gak sekarang, Galih.”

Please,

Yindi melepaskan pegangannya dari gagang pintu, bibirnya bergetar karena amarah, tapi gadis itu memutuskan untuk menuruti permintaan Galih.

“Aku…” Galih memberi jeda pada kata-katanya. Yindi melirik pria itu, menunggunya menyelesaikan kalimat.

“Aku gak mau kehilangan kamu… aku… benar-benar sayang sama kamu, tapi—”

Galih menolehkan wajahnya dari Yindi, pria itu menatap nanar ke luar jendela dengan ekspresi gundah—kedua alisnya bertaut, dahinya berkerut-kerut, asyik dengan pikirannya sendiri.

Situasi ini berjalan cukup lama. Yindi tidak berani bergerak atau bersuara sedikit pun. Harapan dan rasa takut bercampur baur, membuat detik terasa seperti menit, dan menit menyamar menjadi jam.

Galih menghela napas panjang. Pria itu membetulkan posisi duduknya untuk menghadap Yindi, dipandangnya lawan bicaranya itu dengan lembut. Bibirnya membuka ragu, meneruskan kalimatnya yang sempat terputus, “Aku ingin kamu percaya, kalau aku melakukan ini untuk kebaikan kita berdua.”

Sunyi kembali mengisi jarak di antara mereka. Yindi tak kuasa membalas kata-kata Galih, benaknya terlalu sibuk berperang. Apa maksud Galih? Untuk kebaikan siapa?

Pria itu membelai rambut dan pipi Yindi dengan punggung tangannya, seakan-akan sadar bahwa gadis itu sedang menelaah situasi. “Maaf, Ndi. Aku tahu ini gak adil untuk kamu. Tapi tolong kasih aku waktu sebentar lagi. Kamu mau, kan?”

Rahang Yindi mengeras, bibirnya bergetar, matanya memanas karena air mata yang sedari tadi berusaha mendesak keluar. Gadis itu menganggukkan kepalanya sekali, memberikan pria di hadapannya kesempatan kedua. Dia belum bisa melepaskan Galih begitu saja.

***

Bunyi klakson panjang membuyarkan Galih dari lamunan. Hampir saja dia menabrak pembatas jalan, untunglah kesadarannya lebih dulu mengambil alih sehingga dia bisa segera membenarkan arah laju mobil yang dia kendarai.

Dengan jantung yang berdebar lebih cepat karena terkejut, Galih memasuki salah satu cabang pom bensin di pinggir jalan besar Gatot Subroto. Dia menghentikan CRV miliknya di area kosong, berusaha tidak mengganggu jalannya kendaraan lain yang keluar masuk untuk membeli bahan bakar bagi kendaraan mereka. Dibiarkannya mesin tetap menyala, dia hanya butuh beristirahat sejenak untuk menenangkan diri.

Pria itu menyandarkan kedua siku pada setir, melipat tangan dan membenamkan wajahnya. Benaknya mengulang dialog dan raut kecewa gadis yang baru saja makan malam dengannya, Yindi.

Rasa bersalah menghinggapinya, membuatnya mengutuk diri sendiri, karena sudah membuat perempuan sebaik Yindi merasa terombang-ambing dengan sikapnya. Namun, dia tak memiliki banyak pilihan. Saat ini Galih hanya bisa mengulur waktu, karena pria itu pun tak tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Dia belum berani untuk mengambil keputusan.

Ponsel miliknya berdering memecah sepi. Ibunya yang menelepon. Galih berdeham, menyadari bahwa bukan hanya matanya yang berkaca-kaca, tapi suaranya pun terdengar serak. Bicara di saat seperti ini hanya akan membuat ibunya merasa khawatir, sedangkan memilih untuk sengaja tidak mengacuhkan panggilan tersebut akan memicu banyak pertanyaan setibanya dia di rumah nanti. Galih mengambil opsi yang terakhir. Pria itu langsung menekan tombol mute, dan membiarkan panggilan itu tak terjawab.

Di saat seperti ini, dia selalu teringat pada orang itu. Sosok manja yang dulu selalu merepotkannya, tapi tak pernah gagal dalam membuatnya merasa menjadi pria paling bahagia di dunia. Salah satu alasan mengapa dia tak tega mempersilakan Yindi masuk lebih dalam ke kehidupannya. Dia takut Yindi tahu kepada siapa hati dan tubuhnya merindu, dan dia tak mau Yindi lebih terluka daripada yang sudah gadis itu dapatkan saat ini.

Galih menelan ludah, berusaha menahan gejolak perasaan yang memburu, membuatnya sulit bernapas. Dalam hati, dia bertekad untuk mencari solusi yang terbaik kali ini, dia tidak mau melakukan kesalahan lagi. Ya, lebih baik dia mati daripada dia harus menyakiti orang-orang yang dia sayangi, untuk kesekian kalinya.©2014AmandaBahraini

***

More about My Love G

Advertisements

One thought on “My Love G : Buku Satu – Chapter 3

  1. Chichi September 22, 2015 / 4:55 pm

    Gimana cara nya biar bisa baca lanjutannya? 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s