Kereta, Pukul 1 Pagi.

*postingan ini dibuat dalam rangka program “Hear and Write”

Kereta, Pukul 1 Pagi

By : Rainy Amanda

Terinspirasi dari lagu “Am I Wrong” by Nico & Vinz

Am I wrong?
For thinking out the box from where I stay?
Am I wrong?
For saying that I choose another way?

Perutku terasa geli. Jantungku berdegup menyenangkan. Rasanya seperti kasmaran untuk pertama kalinya, tapi bedanya aku tak sedang jatuh cinta dengan siapapun.

Kubetulkan posisi dudukku. Kuambil bantal kecil yang sedari tadi tergeletak pasrah pada kursi kosong di sampingku, kemudian kuletakkan di antara punggungku dan sandaran bangku. Aku berharap benda empuk itu akan membantuku merasa rileks. Tapi tidak, belum semenit berlalu aku sudah bergerak-gerak gelisah. Kualihkan perhatian keluar jendela kecil di samping kiriku. Tak ada pemandangan yang bisa dilihat, hanya gulita sekelam beludru, yang sesekali menampilkan kelebat cahaya-cahaya kecil dari barisan rumah penduduk.

Kulirik sekelilingku, gerbong yang kutempati terasa sangat lengang, mungkin karena ini bukan musim liburan. Selain aku, hanya ada sepasang manula, tiga orang pria paruh baya dan dua-tiga orang penumpang yang duduk berpencar. Suasana sepi, hanya menyisakan suara derap mesin kereta yang berbunyi teratur.

Aku memeriksa jam di pergelangan tangan. Pukul satu dini hari. Hampir lima jam berlalu sejak kereta yang kutumpangi ini bertolak dari Gambir. Aku menyusun rencana, menentukan apa yang akan kulakukan pertama kali esok pagi, saat keretaku sampai di Stasiun Surabaya Kota. Pertama-tama, aku akan mencari makanan yang hangat serta kopi panas. Kedua, aku akan mencari pasar atau mall terdekat untuk membeli kaus, celana pendek dan sandal yang nyaman.

Oh, jangan lupa deodoran dan peralatan mandi. Juga baju dalam ekstra.

Aku menyentuh kemejaku yang kusut di sana-sini dan berbau keringat, kemudian kulirik sepatu pantofelku yang teronggok di bawah pijakan kaki.

Salahku sendiri yang mendadak memutuskan untuk pergi tanpa mempersiapkan diri terlebih dulu. Jangankan pakaian ganti, sikat gigi saja aku tak bawa.

Aku tertawa kecil. Teringat akan tindakan spontanku beberapa jam yang lalu. Entah apa yang merasukiku, tapi aku langsung menaiki taksi menuju Gambir sepulang kerja tadi. Kulonggarkan dasiku, kusampirkan jasku di pundak. Berbekal dompet di saku celana, aku melangkah mantap.

Padahal ini bukan akhir minggu. Seharusnya, rutinitasku masih berjalan pagi nanti. Pekerjaanku masih menanti. Bosku masih menunggu laporan dariku. Tapi aku tak peduli.

Aku lelah. Aku muak. Sudah berkali-kali aku menahan diri. 10 tahun aku terpenjara, dan sekarang aku memutuskan untuk mendobrak penghalang besar itu.

Ketakutanku sendiri.

—–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s