Amora Menolak Cinta – Chapter 3 “Estrogen Progesteron”

Amora Menolak Cinta – Chapter Map

3

Estrogen Progesteron


“Jadi, abis ini jangan langsung pada pulang dulu, ya. Ada kumpul bentar setelah maghrib. Senior mau ngomongin soal materi dan jadwal diklat himpunan.”

Seruan dan gumaman yang bernada tak senang datang dari segala arah, memprotes Alif yang sedang memberikan pengumuman di depan kelas.

Semua tahu bahwa yang dimaksud dengan ‘Diklat Himpunan’ adalah ospek jurusan. Tapi dikarenakan peraturan universitas yang melarang keras perploncoan dalam bentuk apapun, senior lebih suka menyebutnya sebagai acara latih kepemimpinan untuk bergabung dengan HIMBI—kependekan dari Himpunan Biologi, kepengurusan mahasiswa Biologi Universitas Negeri Bandung.

“Pokoknya saya minta partisipasi dari teman-teman, ya. Kita harus bisa menunjukkan kekompakan sebagai satu angkatan. Kalau enggak… semuanya bisa dihukum bareng, nih. Diabsen soalnya,” tambah Alif seraya memberikan ekspresi lo-tau-senior-kita-kayak-apa ke arah teman-temanku yang lain.

Meskipun begitu, masih saja ada mahasiswa yang mengeluh tak suka, termasuk Heidy yang duduk di sebelahku. Cewek itu dengan terang-terangan mengacungkan kedua ibu jari tangannya ke bawah.

“Oke, sekian dan terimakasih. Kita ketemu di selasar Biologi kira-kira…” Alif melirik jam pada pergelangan tangannya sejenak, “…satu jam 15 menit lagi.”

Teman-temanku berjalan keluar dari kelas segera setelah Alif selesai berbicara. Langkah mereka tidak seantusias biasanya—mungkin kecewa karena masih harus bertahan di kampus sampai matahari terbenam nanti.

Heidy segera melancarkan protesnya begitu Alif mendekati tempat duduk kami untuk mengambil tas.

“Masa gue bolos klub lagi?! Nyebelin banget, sih!”

“Dy, tadi kan gue udah bilang, kalau lo mau kabur dari briefing diklat himpunan ya silakan. Tapi gue gak tanggung jawab entar pas diklat benerannya.”

“Kenapa sih nyuruh ngumpulnya dadakan? Kenapa gak tanya-tanya dulu pada berhalangan apa enggak?” keluh Heidy. Cewek itu terus mengekori Alif yang sudah berjalan keluar dari kelas.

Aku mengikuti langkah Heidy dan Alif dalam diam. Tak ada gunanya ikut berdebat, toh mereka hanya berputar-putar di topik yang sama. Sudah kubilang, pertengkaran antara Alif dan Heidy itu sudah seperti hobi.

Kami berjalan menuuju pusat jajanan di depan kampus, tidak jauh dari sebuah masjid besar. Semua sudah sepakat untuk makan malam di sana.

Aku dan teman-temanku baru saja memasuki kawasan kantin ketika kami bertemu dengan mahasiswa jurusan Biologi tingkat I lainnya. Shinji dan beberapa kawannya langsung menggabungkan diri, membuat moodku turun drastis karena cowok setengah Jepang itu mengingatkanku pada banyak hal yang menyebalkan.

Dengan sengaja, aku menghindar dari Shinji dan segera mengantre untuk mengambil makanan. Seperti biasa, tempat ini dipadati oleh para mahasiswa yang kelaparan setelah seharian beraktifitas di kampus. Tak heran, selain harganya yang murah meriah, makanan di sini disajikan dengan cara prasmanan. Untunglah, meskipun selalu ramai, ventilasi dan penerangan yang cukup membuat suasana kantin ini tidak terasa sumpek.

Setelah selesai membayar makan malamku di kasir, aku mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk. Beberapa teman yang datang bersamaku tadi masih sibuk mengambil makanan dan mengantre, tapi aku tahu bahwa kami tidak harus duduk bersama. Dalam situasi seperti ini, mana mungkin mencari meja dan kursi kosong yang cukup memuat lebih dari 10 orang? Selain makanan di piring telanjur dingin karena terlalu lama menunggu, aku bisa habis dipandangi sinis oleh pengunjung yang lain.

Tapi paling tidak, aku akan mencari kursi untuk Heidy dan mungkin kalau beruntung, Alif.

Aku menemukan tempat kosong di ujung kiri ruangan. Meja panjang itu sudah terisi oleh mahasiswa-mahasiswa berjaket merah marun yang tidak kukenal, tapi masih menyisakan setidaknya tiga kursi untuk ditempati. Setelah bertanya dengan sopan pada salah seorang mahasiswa yang duduk disana dan memastikan kalau area itu kosong, aku segera meletakkan piring makan malam serta teh manis hangat milikku di atas meja.

Kukeluarkan ponselku dari dalam saku ransel untuk mengirim pesan pada Heidy, berniat untuk memberitahu lokasiku. Tapi belum sempat aku menekan tombol send, Shinji sudah menduduki kursi kosong di hadapanku.

“Sendiri, Ra?” tanyanya padaku.

Rasa malu segera menyerangku begitu pandanganku bertemu dengan Shinji, buru-buru kukatakan bahwa aku menunggu Alif dan Heidy. Sayang, gerombolan mahasiswa berjaket merah marun yang duduk di samping kananku tergelak bersama dengan tiba-tiba, sehingga suaraku tertelan oleh tawa mereka.

“Apa?” tanya Shinji lagi, kali ini seraya mencondongkan kupingnya ke arahku.

“Gue nge-tag kursi buat— “ Aku sudah berniat untuk mengulang kata-kataku, tapi mataku menangkap sosok Alif dan Heidy yang baru saja duduk pada meja di ujung berlawanan, bersama teman-temanku yang lainnya.

Saat itu juga rasa gundah menghinggapiku. Yang benar saja? Aku harus makan semeja dengan Shinji? Setelah semua yang terjadi?

“Udah ada orangnya, ya?” Shinji rupanya masih menungguku untuk meneruskan kalimat.

“Bro! Kita duduk disini, Bro?” Yondi tiba-tiba datang menghampiri kursi kosong di samping Shinji, cowok berambut gondrong itu langsung mendudukkan diri. Aku sering melihatnya bersama-sama Shinji, tapi aku belum pernah mengobrol dengannya.

Sekilas, Shinji melempar pandangan ke arahku, seakan bertanya apakah dia dan Yondi diperbolehkan untuk menempati kursi tersebut. Aku mengedikkan bahu, toh memang semua meja terisi penuh, lagipula Heidy dan Alif juga sudah mulai makan di ujung sana.

“Yon, lo tau Amora, kan?” ujar Shinji seraya menyenggol lengan temannya yang belum apa-apa sudah mulai melahap makanan di piringnya dengan rakus. Kelihatannya teman Shinji yang satu ini lapar sekali.

Aku menganggukkan kepala dengan canggung ke arah Yondi. Sungguh proses perkenalan yang aneh.

“Iya dwong. Khan bendahara angkhatan.” Yondi berbicara dengan mulut penuh nasi.

“Kalau mau ngomong te— “ Belom sempat Shinji menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Yondi terbatuk-batuk. Spontan, aku memundurkan posisiku, sementara Shinji dengan sigap mengangkat piring-piring kami, berusaha menghindarkannya dari remah nasi dan lauk-pauk yang disemburkan Yondi.

“Telen dulu semuanya sebelum ngomong!” tegur Shinji sambil memperhatikan temannya yang buru-buru meraih salah satu gelas di atas meja dan langsung meneguknya tanpa jeda.

Gelas berisi teh manis hangat milikku.

“Eh itu— “

“Yon, itu minumnya Amora!” Tegur Shinji mendahuluiku. Tapi Yondi terus menghabiskan minumanku sampai tak bersisa.

“Sori ya, Amora. Gue lupa beli minum tadi,” jelas Yondi sesudahnya. Pemuda itu kembali meraih sendok, bermaksud meneruskan proses makannya, tapi Shinji segera menyenggol bahu Yondi dengan sikunya.

“Parah, lo. Sana beli minum. Sekalian gantiin teh manis Mora.”

Yondi terlihat ragu selama beberapa saat. Aku yakin dia sama sekali tak berniat untuk meninggalkan piring di hadapannya sebelum licin tandas, tapi tak urung Yondi berdiri dan bergabung kembali dengan antrean panjang menuju meja kasir.

“Emang aneh si Yondi.” Shinji berkata seraya meletakkan piring milikku di meja. Akhirnya, setelah kehebohan demi kehebohan yang terjadi, aku bisa mulai menyantap makananku.

“Lo mau minuman gue dulu? Belum diapa-apain kok.” Cowok itu mendorong es jeruk miliknya ke arahku. Tapi aku menolaknya dengan gelengan pelan.

Melihat reaksiku, Shinji tertawa kecil. Tiba-tiba aku merasa rikuh, entah kenapa aku berfirasat kalau Shinji baru saja mengingat kejadian kemarin sore.

“Cie yang pake item-item… cari aman, ya?” godanya sembari menggigit sepotong udang goreng tepung dari piringnya.

Aku sungguh tak berharap kalau Shinji akan mengungkit aibku. Aku berdoa semoga cowok tersebut amnesia. Tapi aku sadar bahwa insiden jus stroberi kemarin bukan sesuatu yang mudah dilupakan.

Nasi sudah menjadi bubur, batinku. Paling tidak, saat ini aku harus bersikap santai, seakan-akan kejadian kemarin bukan apa-apa. Bukan senjata yang bisa dia gunakan untuk mengolok-olokku di kemudian hari.

Untuk membuktikan bahwa perkataannya sama sekali tak berpengaruh padaku, aku melirik ke arahnya sekilas dan menjawab dengan intonasi datar, “Kebetulan aja kali pake item.”

Bohong. Padahal aku memang sengaja. Aku bahkan membawa beberapa pembalut ekstra di dalam tas, beserta atasan ganti dan sedikit detergen. Tidak ada salahnya berjaga-jaga, kan?

Tanpa kuduga, Shinji terlihat menahan senyum. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang lucu dari fakta bahwa aku berbaju hitam. Tapi aku meneruskan aktingku untuk berpura-pura tenang.

“Gak perlu malu,” ujarnya membobolkan pertahananku.

“Siapa yang malu?“ Aku bermaksud untuk santai tapi tanpa sadar nada suaraku meninggi.

“Gue punya dua adik cewek di rumah, jadi yang kayak gitu sih udah maklum.”

Kutelan kunyahanku dalam diam, sama sekali tak menimpali kata-katanya.

“Emang gak kerasa, ya?”

Pertanyaan Shinji membuat salah satu alisku bergerak naik. “Kerasa apaan?”

“Itu, ‘tamu’ lo. Ibu sama adik-adik gue biasanya udah ngeluh pegel dari beberapa hari sebelumnya.”

Luar biasa. Seterbuka apa keluarga Shinji sampai dia paham benar tentang siklus bulanan ibu dan adiknya? Lalu mengapa dia bisa-bisanya bertanya dengan polos seperti itu kepadaku? Bukankah dia baru saja mengatakan kalau dia paham dengan rasa maluku?

“Beda-beda kali tiap cewek.” Aku mulai kesal. Cowok di hadapanku ini benar-benar menyebalkan.

“Bukannya ada tanggalnya, ya? Gak tepat sebulan tapi–“

“Kan kadang bisa dateng lebih cepet,” tukasku risih.

“Lebih cepet?” Shinji memberiku tatapan yang kuartikan sebagai rasa penasaran.

Aku memaksakan senyum. Semua rasa sungkan dan malu yang sudah menumpuk di dalam dadaku tiba-tiba bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Aku merasa tertindas dan memutuskan untuk melawan balik. Baiklah, kalau memang itu maunya, aku akan menjawab semuanya secara saintifik.

“Lo tau kan fungsi hormon estrogen sama progesteron? Yang ngatur siklus haid?”

“Tahu, dong.”

“Nah, lo paham dong kalau itu datengnya dari otak. Kalau manusia stress atau kurang asupan makanan tertentu, jelas itu berpengaruh ke otak juga, kan? Banyak faktor yang memungkinkan itu terjadi. Jadi wajar aja kalau kadang ada beberapa hormon yang gak berfungsi seperti biasanya. Salah satu efeknya ya, itu : menstruasi yang gak tepat waktu.” Aku sadar bahwa kata-kataku barusan menarik perhatian beberapa cowok mahasiswa berjaket merah marun yang duduk semeja dengan kami, tapi aku tak peduli.

“Emang waktu itu lo stress? Kurang gizi?” Shinji memberi reaksi yang tidak kalah santai. Aku tahu cowok itu sadar betul bahwa pembicaraan kami sedang menjadi sorotan, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi malu atau ragu. Dia menerima tantanganku.

“Mungkin. Gak tau juga deh. Tapi sekarang sih jelas stress, lah.”

“Kenapa? Sakit, ya?” komentarnya berpura-pura simpati.

“DINDING RAHIM LAGI NGELOTOK GIMANA GAK SAKIT?!” jawabku dengan suara yang sengaja kusetel dengan volume lumayan keras. Memang, kata-kataku itu tidak sampai membuat satu ruangan menengok ke arahku, tapi cukup untuk membuat gerombolan cowok-cowok berjaket merah marun yang duduk di sampingku menahan tawa dan saling sikut satu sama lain.

Yang paling menyebalkan adalah cowok di hadapanku, si biang kerok bernama Shinji yang dengan tidak tahu dirinya malah tertawa lepas sampai mengeluarkan air mata.

“Ehm… Amora, ini minumnya….” Yondi tiba-tiba sudah berdiri di sampingku dengan ekspresi terkejut. Cowok itu rupanya sudah menyelesaikan urusannya di kasir. Dengan segan, Yondi meletakkan gelas teh manis hangat di samping piringku. Dia beringsut duduk sambil bolak-balik melirik ke arahku dan Shinji, terlihat bingung—tapi sama sekali tak bertanya.

Sial, batinku. Harusnya aku tahu bahwa cowok bernama Shinji itu memang selalu membuatku melakukan hal-hal bodoh. Kali ini bahkan aku sampai mempermalukan diriku di hadapan orang banyak.

—–

Diklat himpunan akan diadakan mulai minggu depan. Lamanya satu bulan dengan jadwal pertemuan setiap hari Sabtu. Materi diklat mencakup dasar-dasar kepemimpinan dan moral yang akan disampaikan lewat presentasi, diskusi dan simulasi.

Aku mencatat beberapa poin penting, sesuai dengan pengumuman dari senior berjaket kuning yang berdiri di hadapan kami para mahasiswa semester satu yang duduk memenuhi selasar Biologi. Mahasiswa Biologi tingkat dua yang bernama Ramon itu berpostur tinggi besar dengan struktur wajah luar biasa sangar. Bahkan sebelum diklat dimulai saja aku sudah merasa bahwa Ramon akan menjadi salah satu senior yang paling ditakuti.

“Panitia akan memberikan tugas kelompok dan tugas angkatan setiap minggunya. Keterlambatan akan diberikan sangsi. Ketidakhadiran tanpa pemberitahuan jelas tidak akan dibiarkan. Salah satu tujuan diklat ini adalah untuk membentuk kekompakan dan kedisplinan kalian, mahasiswa baru. Jadi saya harap, semuanya berpartisipasi aktif.”

Suara-suara gumaman yang tak jelas mulai terdengar dari sana-sini. Heidy pun berbisik-bisik padaku, mengeluh dengan jadwal diklat yang menyita hari libur kami.

“Sampai sini ada pertanyaan?” ujar Ramon seraya mengedarkan pandangan.

Suasana sepi selama beberapa saat. Tiba-tiba, Ramon mengalihkan tatapannya jauh ke barisan belakang.

“Yak, silakan untuk mahasiswa yang berbaju hijau. Jangan lupa sebutkan nama dan tiga digit terakhir dari NIM.” Ramon memberi isyarat pada senior yang lain untuk mulai mencatat. Aku sendiri tidak bisa melihat siapa yang ditunjuk oleh Ramon, pandanganku terhalang oleh gerombolan mahasiswa yang lain.

“Ehm… nama Yondi, NIM… 083. Saya mau tanya, bagaimana dengan yang berhalangan hadir?”

“Untuk bisa mengikuti pelantikan himpunan yang akan diadakan di akhir diklat, kami memberi syarat kehadiran minimal tiga dari empat kali pertemuan. Untuk yang sakit atau alasan pribadi yang tidak bisa ditinggalkan, silakan menyertakan surat dokter atau surat tertulis dari orangtua atau wali. Di luar itu, saya percaya kalian bisa menentukan prioritas sendiri.” Ramon menjawab dengan tegas, matanya bergerak menyapu para mahasiswa baru sebelum meneruskan kata-katanya.

“Untuk mencegah kesalahpahaman, saya ingin menekankan bahwa ini bukan berarti kalian yang tidak memenuhi syarat kehadiran dari kami tersebut tidak akan dianggap sebagai anggota. Saat kalian resmi menjadi mahasiswa Biologi UNB, maka semuanya secara otomatis sudah terdaftar menjadi anggota HIMBI. Hanya saja, kami ingin mempersiapkan kalian untuk menerima tongkat kepengurusan HIMBI nantinya, dan juga untuk menjadi individu yang lebih baik.”

Ramon mengakhiri penjelasannya tersebut dengan senyum puas. “Ada pertanyaan lagi?” tawarnya.

Kali ini Alif yang duduk di sampingku mengacungkan tangan ke udara. Karena kami berada di barisan terdepan, maka tak susah untuk menarik perhatian Ramon dan senior yang lain. Alif segera berbicara setelah dipersilakan oleh Ramon.

“Saya Alif Kurnia, NIM 080. Bagaimana dengan sistem pembagian kelompoknya?”

“Kelompok sudah dibagi berdasar NIM. Karena kami sebisa mungkin menyusun komposisi pria dan wanita yang mendekati seimbang dalam satu grup, maka tidak semuanya sesuai urutan. Sekarang akan kami umumkan nomor beserta anggota kelompok.” Setelahnya, seorang senior perempuan maju menggantikan Ramon dan mulai membacakan nomor kelompok beserta nama-nama anggota.

“…anggota kelompok 8 : Yunita Hadiwijaya, Amora Ayu…”

Mendengar namaku disebutkan, aku segera menegakkan duduk dan menajamkan pendengaran.

“… Heidy Rahma Astari, Alif Kurnia…”

Aku, Heidy dan Alif saling melirik, tersenyum lebar karena kami mendapatkan kelompok yang sama.

“… Alfarizki, Shinji Wirya Atmaja…”

Pundakku terasa nyeri karena cengkeraman tangan Heidy yang kelewat kuat. Dari raut yang ditunjukkannya aku tahu bahwa temanku itu sedang girang bukan kepalang karena mendengar nama Shinji dalam kelompok kami. Alif menunjukkan tampang malas, sementara aku tetap berkonsentrasi dengan pengumuman anggota kelompok, masih ada dua orang yang belum disebutkan.

“…Yondi Suherman, dan Rahajeng Pratita.”

“Ih” desis Heidy. Aku menengok ke arahnya, menemukan air mukanya yang berubah malas.

“Kenapa lo, Dy?” tanya Alif.

“Tita masuk kelompok kita juga,” jawab Heidy. Sepertinya fakta tersebut benar-benar mengganggunya. Sebenarnya aku pun sedang merasakan hal yang sama, hanya saja untuk alasan yang berbeda. Sejarah antara Tita dan Erin memang membuatku tak bisa menyukai cewek itu, tapi aku lebih khawatir lagi dengan fakta bahwa sudah beberapa kali aku bertindak bodoh di sekitar Shinji, tapi sekarang aku malah harus sekelompok dengannya.

Semoga saja diklat jurusan ini bukanlah awal dari kejadian memalukan lainnya.©2015RainyAmanda

—–

♫Been broken hearted before,

But that’s the last time it happens to me, 

I keep on giving so you’re asking for more, 

Too much emotion baby why can’t you see?♫

(Love Thing by Spice Girls)

Cara Membeli Buku Amora Menolak Cinta

Advertisements

One thought on “Amora Menolak Cinta – Chapter 3 “Estrogen Progesteron”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s