Fanfic Ada Apa Dengan Rangga? – Chapter 1 “Cinta Itu Dia”

Fanfiction Ada Apa Dengan Rangga?
Chapter 1 “Cinta Itu Dia”

Kupikir, cinta itu dia. Perempuan pertama yang kupilih untuk tinggal di jiwa.

Cinta itu dia. Tak ada ragu dalam darahku yang masih menggelegak. Panas berbuih seperti lahar bertemu lautan lepas.

Dikala ada cinta, sastra tidak sunyi. Kubaca ulang buku di rak, di sudut meja, di samping peraduan—semuanya berbeda. Untaian kata di dalamnya mendadak melukiskan cinta, jeda di antara paragraf membuatku rindu akan cinta. Aku seakan organisme tunggal yang membelah menjadi dua. Seseorang akan balik berteriak tentang isi hatiku dan itu bukan gema. Seseorang akan memahat makna ke dalam memoriku dan itu bukan naskah tua.

Kupikir, cinta itu dia. Pecahan ruh yang terserak, dipertemukan takdir untuk nantinya menjadi satu selamanya.

Cinta itu dia.

Kalau cinta bukan dia, lalu siapa?

“Rangga!”

Pria yang namanya disebut menoleh ke arah sumber suara. Pena dan notes bersampul hitam dalam genggamannya segera disimpan dalam saku coat yang sedari tadi disampirkannya pada sandaran kursi. Rangga bangkit dari duduknya, memberi anggukan samar pada sosok lelaki dengan kumis dan rambut hitam legam yang berjalan mendekat.

“Apa kabar, Pujangga…?!” sapa si lelaki berkumis itu dengan suara berat nan menggelegar, khas seseorang yang akrab dengan nikotin. Jabat tangan di antara mereka jauh dari kaku—genggaman tangan erat dan singkat, diikuti oleh sebelah bahu yang saling dibenturkan.

“Gue sempet pangling, tadi. Dari jauh gue kira pejabat korup yang jalan-jalan keluar negeri pakai uang rakyat. Ternyata emang bener elo, Ed.”

Komentar Rangga membuat lawan bicaranya tertawa keras. Begitu kerasnya sampai pengunjung kafe tempat mereka berada mencuri lirik. Seorang waitress dengan wajah penuh bintik kecoklatan sampai terbelalak dengan karena Edi.

“Asem lo, ya. Emang dari dulu paling jago nyela. Nyela apa nyindir sih, lo?” tukas Edi sambil melepas outer coat miliknya yang kemudian diletakkan sembarangan pada ujung meja.

“Tergantung. Emang lo korup?” tanya Rangga santai seraya kembali duduk.

Meski dituduh secara tidak langsung untuk kedua kalinya seperti itu, Edi tetap menunjukkan senyum lebarnya. “Wanjir, enggak, lah! Gue ke Belanda buat tugas negara, cuy! Halal, nih!”

Pembicaraan mereka terhenti sejenak karena interupsi sang waitress berwajah bintik coklat. Edi berusaha memesan minuman menggunakan bahasa lokal yang masih terbata. Saat si pelayan terlihat bingung, Rangga mengulangi pesanan Edi dengan pengucapan yang lebih fasih.

“Wanjir… Rangga… the best banget. Lama di Amerika, ambil S2 di London, ternyata bisa bahasa Belanda juga. Udah mental internasional lo. Udah ilang kayaknya jiwa Indonesia lo,” ucap Edi segera setelah si pelayan berlalu.

“Biasa aja,” tampik Rangga sekenanya. Edi yang dikenalnya 14 tahun lalu di SMA memang aneh, dan sampai sekarang pun ternyata masih saja membawa gaya bicara melanturnya yang khas. Satu-satunya yang berubah adalah rambutnya yang tak lagi kribo. Siapa yang menyangka bahwa teman Rangga yang semasa sekolahnya hanya memikirkan musik dan penampilan, sekarang bekerja di pemerintahan?

“Serius, gue. Kayaknya lo bakal mati kesel kalau mendadak harus balik ke Jakarta,” ujar Edi lagi.

“Kenapa emangnya?”

“Macet. Krisis. Baper semua orang-orangnya. Pemerintah sama rakyat sama-sama baper!”

Baper?” Rangga mengernyitkan dahi mendengar sebuah kata asing yang belum pernah didengarnya.

“Bawa perasaan! Terlalu sensitif maksudnya. Biasa, bahasa gaul anak muda Jakarta.”

“Pantes pemerintahan kita jadi gak jelas, isinya orang-orang lupa umur kayak lo gitu. Malu tuh sama kumis.”

“Asem!”

Tanpa menanggapi, Rangga menyesap koffie verkeerd miliknya. Rasanya kelewat jinak untuk dianggap kopi. Terlalu banyak susu dan gula. Kalah jauh dari kopi buatan Luke, kedai langganannya semasa tinggal di Washington D.C.

Kamu itu gak cocok minum kopi. Orang yang suka mendem perasaan itu biasanya lambungnya lemah, persis kayak kamu. Kopi buat kamu itu kayak luka dikasih jeruk nipis. Masokis.

Rangga tersenyum tipis. Urutannya selalu sama. Kopi, lalu rekaman bernada suara feminim itu akan berputar ulang di benaknya. Penyakit maag-nya memang sering kambuh, terutama saat dirinya dikejar tenggat. Dua tahun lalu, beban pekerjaan yang menjadi momok baginya. Sekarang, pikiran akan thesis yang membayanginya. Seharusnya koffie veerkerd ini tak ada di hadapannya, si suara feminim tak akan tinggal diam kalau tahu Rangga bersikap masokis pada dirinya sendiri untuk kesekian kalinya. Tapi khusus hari ini Rangga butuh cairan hitam itu, meskipun hanya sekadar aroma saja.

“Woy! Bengong, lo? Mikirin bini? Gak tahan pengen pulang?” goda Edi seraya menyesap minuman hangat miliknya yang baru saja diantarkan oleh pelayan.

Rangga berdecak singkat, memilih untuk tidak menanggapi.

Edi kembali meletakkan cangkir pada meja, kemudian mengambil sepotong biskuit jahe yang dikunyahnya dalam sekali lahap. “Apa kabar bini lo? Sehat? Gue denger dia sibuk banget sama risetnya? Untung aja lo bisa gantiin dia ketemu gue di sini.”

“Bini itu urusan masing-masing, lah…” ucap Rangga dengan nada bercanda.

“Gini-gini gue temen kuliahnya di UI, lho. Salamin yak, entar. Bilangin tolong doain gue cepet-cepet nyusul S2 di Belanda kayak dia. Minta dia sebut nama gue di lobi University of Amsterdam.”

“Lo pikir umroh pake nitip doa segala?”

“Ampun, Bang. Posesif amat. Oke, oke. Gue minta doa bini gue aja ntar.” Edi meraih ransel miliknya, kemudian mengeluarkan amplop berwarna kombinasi merah muda dan silver berbentuk persegi. “Gue waktu itu dateng ke nikahan Mamet. Inget Mamet kan, lo? Temennya bini lo juga, tuh.”

Rangga mengangguk seraya meneliti undangan pernikahan dalam genggamannya. Kaligrafi huruf C dan B yang saling berkait menjadi penghias, tak lupa glitter dan nama jelas dari kedua mempelai.

“Di sana gue ketemu sama Cinta. Acara dia akhir bulan ini. Gue cerita kalau gue mau ada kunjungan kerja ke Belanda, terus dia nitip undangan ini buat istri lo. Ya… buat lo juga, sih. Dia bilang, dia akan seneng banget kalau kalian berdua mau dateng.”

—–

Kembali ke Profil Ada Apa Dengan Rangga?

Lanjut Chapter 2 “Menjadi Terpidana”

Advertisements

2 thoughts on “Fanfic Ada Apa Dengan Rangga? – Chapter 1 “Cinta Itu Dia”

  1. Dina August 11, 2016 / 5:14 am

    Mandaaaa….gw baru baca ini…

    Sbagai penggemar AADC, gw shock berat baca story lanjutann punya loe…

    Gw team Cinta & Rangga, gaaa mauuuu…ini edaaann..knapa tibaa jadii alyaaa….Gw ga relaaaa…..hahahahah

    Seriously, untungnya AADC 2 ga kaya cerita loe….wkwkwkwk

    Thanks to Miles….. :):):)

    • Mandhut January 7, 2017 / 2:27 pm

      astaga parah banget baru baca komennya. Sori ya Dina, balesnya lama banget.

      Iya gue anaknya emang suka anti-mainstream, jadi milih tim Rangga Alya wahahahahaha =))

      Thanks udah baca dan sekali lagi sori ya baru bales komennya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s