Fanfic Ada Apa Dengan Rangga? – Chapter 2 “Menjadi Terpidana”

Fanfiction Ada Apa Dengan Rangga?
Chapter 2 “Menjadi Terpidana”

“Gimana? Dateng gak, lo?”

Pertanyaan Edi membuat Rangga menghela napas. Sejujurnya, dia sudah tahu bahwa Edi bermaksud menyampaikan undangan pernikahan Cinta. Istrinya memberitahunya saat meminta Rangga untuk menggantikannya menemui Edi di kafe ini. Namun masalah hadir atau tidak, Rangga belum tahu bagaimana menyikapinya.

“Emang pake RSVP, nih? Harus didata siapa aja yang dateng?”

“Enggak… sekedar nanya aja.”

Rangga merapatkan bibirnya, membolak-balik undangan dalam genggamannya.

Awkward, ya? Cinta itu mantan lo. Bini lo sahabatnya dia.”

Komentar Edi tersebut membuat Rangga semakin tak berselera untuk menanggapi. Untunglah seseorang menelepon ponsel lawan bicaranya itu. Tanpa berlama-lama, Edi pun segera pamit untuk bergabung dengan koleganya yang lain.

Sepeninggal Edi, Rangga tidak langsung beranjak pergi. Pria itu malah memesan koffie verkeerd-nya yang kedua, kemudian kembali menenggelamkan diri dalam notes berlapis kulit warna hitam yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.

Halaman dengan catatan berjudul Cinta itu Dia terbuka di hadapannya. Dia menulisnya lebih dari dua tahun yang lalu, sewaktu masih mengais rezeki pada sebuah perusahaan surat kabar di Amerika. Hari itu dia menepis semua prinsip yang pernah dibuatnya, bertanya berkali-kali pada dirinya sendiri tentang apa yang dia inginkan. Untuk hidupnya. Untuk mimpinya. Untuk hatinya.

Pada hari yang sama pula dia membeli tiket menuju Jakarta. Menemui Cinta keesokan harinya. Mengaku dengan jujur mengapa hubungan mereka baiknya disudahi. Mengapa pertentangan ego di antara mereka tak lagi perlu untuk dibenahi. Mengapa hatinya bercabang. Dan mengapa hati itu kukuh memberi ruang bagi seseorang yang tak seharusnya berada di sana.

“Dia butuh saya, Cinta.”

Rangga masih ingat dengan jelas kata-katanya waktu itu, juga kalimat Cinta selanjutnya.

“Kamu pikir saya gak butuh kamu? Kamu pikir saya gak butuh sahabat saya itu? Ini jahat, Rangga. Ini gak adil. Saya tunggu kamu belasan tahun, tapi kamu selalu pergi pada akhirnya. Dan kali ini, kamu bawa juga teman karib saya yang selama ini saya percaya?”

“Dia butuh saya, Cinta. Saya belum punya penjelasan lainnya. Dia butuh saya, dan itu penting buat saya.”

Mendiang ayahnya pernah berkata bahwa kebenaran itu harus dijunjung sampai titik darah penghabisan. Rangga menduga mungkin dari sanalah semua cara pikirnya bermula. Sekian lama hidup berdua dengan Ayah, kata-kata beliau menjadi kata-katanya, mimpi-mimpi beliau menjadi mimpi-mimpinya. Asam-garam hidup ayahnya jalani dengan wajah menatap lurus ke depan. Diteror karena menggoyang orde baru, dikucilkan karena dianggap komunis, sampai akhirnya hanya bisa mengabdikan ilmu di negeri orang—kalau tak mau dibilang diasingkan.

Namun di tengah keyakinannya yang teguh pada pandangan ayahnya, kata-kata ibunya mengusik seperti retak pada dasar pondasi sebuah gedung. Tipis. Kecil. Namun seiring waktu memperlihatkan wujudnya, membuat Rangga gundah dengan kehadirannya.

“Ayah kamu, itu. Apa sih yang dikejar? Kebenaran atau egonya? Bilangnya jadi martir untuk negara. Apa yang mau dibela kalau anak dan istri saja dia lupa? Apa yang mau dijaga kalau jadi kepala keluarga saja dia tak bisa?”

Dan begitulah, ibu dan kakak-kakaknya pergi meninggalkan si pria tua yang mengaku martir negara. Hanya Rangga yang masih bertahan. Namun kali itu Rangga ada bukan karena pendirian, bukan juga karena prinsip yang ingin dijunjung sampai akhir zaman, tapi karena sayang.

Sesederhana itu, karena tak bisa menerima kenyataan ayahnya akan sendirian selama sisa hidupnya. Rangga rela ikut sampai ke Amerika, terpisah jarak dari ibu dan kakak-kakaknya, terpisah dari cintanya. Perlahan, dia bisa dengan jelas melihat, bahwa ayahnya seringkali mengambil keputusan karena ego semata. Memberi retak pada keyakinan Rangga akan pemahaman beliau yang kokoh seperti karang di tengah lautan.

Rangga terbiasa dengan pemikiran yang kritis. Terbiasa mengajukan pertanyaan mengapa sebuah sistem tak berjalan sebagaimana mestinya. Terbiasa sinis akan motif dasar manusia yang berputar pada perut dan hasrat. Jadi tak mudah baginya untuk mengakui bahwa seorang perempuan telah menempatkannya pada kursi terpidana. Kursi dimana dia biasa mengadili orang lain, sekarang dialah yang duduk di sana.

Begitulah prosa berjudul Cinta itu Dia itu bermula. Tak selesai karena Rangga belum sanggup merangkai kata untuk mengungkapkannya. Untuk pertama kalinya, Rangga bagai berjalan tanpa mau membuka mata. Tak masalah kemana dia menuju, asalkan dia tahu bahwa perempuan itu ada di sisinya. Tiga bulan setelahnya, Rangga menikahi perempuan pilihannya dengan sederhana. Berdua mereka menjalani hidup bersama, dari Amerika ke Eropa, lalu tinggal berjauhan demi mengejar mimpi. Dia di London, kekasih hatinya di Belanda.

Rasa bersalah jelas ada. Namun siksanya terkikis waktu, menyisakan doa agar semua yang disakiti bahagia.

Lalu berita gembira itu pun datang. Mendadak Rangga begitu ingin untuk menggoreskan pena pada kertas, melanjutkan buah pikiran yang sempat tertunda lama.

——

Kembali ke Profil Ada Apa Dengan Rangga?

Kembali ke Chapter 1 “Cinta Itu Dia”

Lanjut Chapter 3 “Perempuan Bermata Kaca”

Advertisements

2 thoughts on “Fanfic Ada Apa Dengan Rangga? – Chapter 2 “Menjadi Terpidana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s