A Thousand Heartbreaks,

A Thousand Heartbreaks,

Rainy Amanda

Once, a guy came to me with tears in his face. His voice cracked, his hands trembled, his courage defeated. “Love me with all you have in your heart,” he said, “Love me like you never loved before, for I’m suffering from a terrible heartbreak. My wife has just died and I just found out that she was always respected me, but love, she was not.”

Continue reading

Advertisements

Seharusnya Aku,

Seharusnya Aku,

by Rainy Amanda

Kau bernyanyi di pagi hari. Di tengah kegiatan memanggang roti dan menyeduh kopi. Kau menari di hadapan putrimu yang baru genap berumur tiga bulan sepuluh hari.

Bayi kecil itu tertawa. Ikut bergoyang mengikuti irama. Blues, jazz, pop, hingga rock, kaulah yang memperkenalkannya.

Di tengah pergantian lagu kau akan berkisah. Judul, penyanyi hingga hal-hal yang tidak ada hubungannya. Putrimu mendengarkan dengan seksama. Matanya membulat, jarinya basah karena mulutnya tak bisa berhenti menyesap. Kau tahu gadis kecil itu tengah mendengarkan walau belum cukup dewasa untuk memahami. Kau tahu gadis kecil itu tengah memperhatikan walau belum sanggup mendebat dan berdiskusi.

Continue reading

Hilang,

Hilang,

karya: Rainy Amanda

pic is courtesy of pexels.com

Aku terbangun dengan air mata dan sakit hati.

Perlahan kegelapan di hadapanku berubah remang, hitam menjadi biru kelam, garis demi garis bayangan memperlihatkan siluet langit-langit. Biru oranye yang menyusup dari sudut tirai, batinku. Kurasakan air mataku yang menetes lagi, mentari pasti baru menyapa pagi.

Lelap sudah jauh pergi, meskipun begitu, aku bergeming selama beberapa detik hingga menit. Aku mencoba menerima bahwa kemana pun nanti aku bergerak dan mencari, bernapas dan berlari, kau tak akan pernah ada lagi, Sayang. Dan aku masih belum tahu bagaimana meredam sakit karena kehilangan ini.

Continue reading