Kemeja Biru

dcc9c38e392bbe5e8609f91a934e87ee--blue-flannel-shirt-blue-shirts

Aku tahu pasti atasan apa yang akan kau kenakan hari itu.

Kemeja bahan flanel bercorak kotak-kotak biru, dengan garis ungu, hijau, dan putih tipis yang saling bersilang siku.

Aku menuliskannya pada secarik kertas, lima menit sebelum kau datang pagi itu. Berpikir mungkin aku akan memberitahu seberapa jauh aku mengenalmu. Lalu aku menyadari bahwa ada dua hal lagi tentangmu yang bisa kuprediksi, dan aku mendadak ragu untuk mengaku.

Continue reading

Advertisements

Aneh.

*postingan ini dibuat dalam rangka program Hear & Write

Aneh

by Rainy Amanda

Oh simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need someone to rely on
So tell me when you’re gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin

(Somewhere Only We Know by Lily Allen)

—-

Saya tahu dia gadis yang aneh.

Bahkan sebelum dia mengungkapkannya dengan sorot mata ragu, saya tahu. Saya tahu bahwa cara pikirnya tidak seperti manusia yang lain. Saya paham bahwa tindakannya tidak selalu bisa dimengerti orang awam. Saya tahu bahwa senyum tulusnya datang dari hati – hati yang sama yang menolak semua orang. Saya tahu bahwa di balik cerah sikapnya ada kegelapan sekelam malam.

Dan orang-orang menganggapnya aneh. Dia sendiri menjuluki dirinya aneh.

Di antara semua keanehan yang gadis itu lakukan, sikapnya pada saya adalah yang paling aneh.

Continue reading

Fabian,

*postingan ini dibuat dalam rangka program Hear & Write

Note from author :

Kisah Nila dan Bian ini merupakan potongan dari ide plot besar yang masih dalam proses penulisan. Ceritanya, suatu hari saya sedang mendengarkan lagu We Don’t Talk Anymore gubahan Charlie Puth & Selena Gomez dan entah kenapa saya teringat pada Nila dan Bian. Rasanya tidak sabar untuk berbagi barang sedikit mengenai kisah 2 tokoh tersebut. Selamat menikmati, semoga suka 🙂

Fabian,

by : Rainy Amanda

I just heard you found the one you’ve been looking

You’ve been looking for

I wish I would have known that wasn’t me

(We Don’t Talk Anymore – Charlie Puth)

Sebising apapun duniaku, kamu selalu ada, Bian.

Dentum musik menyalurkan gemanya ke tubuhku. Sesekali sinar laser berkedip menari-nari di tengah ruangan temaram. Bartender menyodorkan gelas kaca berleher tinggi ke hadapanku, menyunggingkan senyum dan berkomentar satu-dua hal remeh. Aku menyesap sedikit minuman yang kupesan, sebelum memberi jawaban yang kupastikan sesuai dengan apa yang pria itu tanyakan.

Tidak, aku belum mabuk, Bian. Alkohol pertamaku malam ini masih kunikmati perlahan. Ini bukan sekali aku memaksakan konsentrasi. Bukan sekali aku berharap untuk melunakkan perasaan di tempat ini. Dan bukan sekali pula aku bertarung hasrat diri untuk berbicara denganmu lagi.

Continue reading